Asahan,Sumut-banyaknya pusat hiburan yang ada di kisaran mendapat sorotan dari Ketua MUI asahan ustad Salman Abdullah Tanjung, M.A , yang sangat kecewa dengan semakin berkembangnya pusat hiburan malam yang merusak generasi muda.
Terutama pusat hiburan " KINGBAR" yang lokasinya hanya berjarak satu lemparan batu dari rumah ibadah masjid agung Ahmad bakrie dan Gereja demikian juga berdekatan dengan kantor bupati asahan sendiri serta kantor Satpol PP.
Saya sangat menyesalkan semakin banyaknya pusat hiburan yang tumbuh saat ini yang sepertinya tidak terkontrol dan tidak mempunyai izin lengkap "kesalnya kepada wartawan senin ( 27/4/2026).
Ustad Salman menerangkan bahwa sebelumnya MUI asahan telah menyampaikan keresahan warga kepada pemkab asahan dan instansi lainnya terkait pusat hiburan Heaven dan Nesbar dan alhamdulillah berhasil di segel dan ditutup secara permanen.
Terkait pusat hiburan malam saat ini terutama "KINGBAR" yang lokasinya berdekatan dengan rumah ibadah, ustad Salman selaku Ketua MUI akan menyampaikan masalah ini kepada Bupati dan wakil bupati asahan serta Satpol PP untuk menutup secara permanen pusat hiburan tersebut yang tidak peka dengan kearifan lokal.
" Sesegera mungkin saya selaku ketua MUI asahan akan menyampaikan masalah ini dan menggandeng unsur keagamaan lainnya untuk menciptakan asahan religius " tegasnya.
Keberadaan pusat hiburan malam di kota kisaran kabupaten Asahan Sumatera Utara tumbuh subur bak jamur tumbuh dimusim hujan , sekurangnya terdapat 14 pusat hiburan malam dikota kisaran yang luasnya sekitar 62 ,98M2 yang konon katanya kota religius.
Keberadaan pusat hiburan malam, seperti diskotik, yang berdekatan dengan rumah ibadah dan pemukiman warga kerap menimbulkan keresahan sosial karena dinilai melanggar kaidah moral.
Di wilayah Kisaran, Asahan, tempat hiburan malam dilaporkan kian menjamur. Situasi ini sering memicu konflik karena dianggap mengganggu ketenangan lingkungan, terutama di sekitar tempat ibadah.
Bupati asahan Taufik Zaenal Abidin kini menjadi sorotan publik karena diduga melakukan pembiaran terhadap aktivitas tempat hiburan malam "KING BAR " yang beroperasi di Jalinsum Ahmad Yani kisaran yang hanya berjarak satu pelemparan batu dari Masjid Agung dan kantor Bupati asahan sendiri.
"Apakah suara alunan musik DJ dari pusat hiburan ala outdoor tersebut tidak kedengaran dari rumah dinas Bupati asahan tersebut "? tanya Ferry Matondang salah seorang wartawan televisi nasional dan diamini oleh kalangan wartawan lainnya dan ini menjadi preseden buruk bagi pemerintah daerah asahan.
Belum lagi masalah lokasi tersebut yang notabenenya ex HGU PT Bakrie yang statusnya kini belum jelas dan ini menambah kurang tegasnya pemerintah daerah dalam penyelesaiannya.
Ferry menambahkan meski sudah berkali-kali diberitakan media dan menuai protes warga, Pemkab asahan tidak pernah mengambil langkah tegas untuk menutup tempat tersebut. Sikap diam ini dianggap bentuk nyata ketidakpedulian dan lemahnya kepemimpinan Taufik Zaenal Abidin dalam menjaga moralitas dan ketertiban kota, kesal wartawan senior ini.
Keberadaan tempat hiburan malam di lokasi yang begitu dekat dengan rumah ibadah jelas melanggar sejumlah aturan dan norma sosial.
